Trinity, Gadis Kecil Korban Bom Di Gereja

0
242

Samarinda Kalimantan, Indonesia

TRINITY BOCAH KORBAN BOM SAMARINDA ITU BUTUH OPERASI

Bocah kecil korban bom molotov Samarinda setahun yang lalu itu menggelayut manja di badan ayahnya. Ia menggelendot ingin dibelai. Ayahnya membelai rambutnya. Memeluknya. Membisikkan sesuatu.

Trinity Hutahaean sore itu tampak segar. Ia mamakai baju putih terusan bermotif kotak-kotak hitam. Sekujur tubuhnya terlihat bekas luka bakar bom molotov. Tangan kirinya ikut tertarik kulitnya hingga tertekuk tidak bisa normal lagi.

Dari ujung kaki hingga leher luka bakar itu membekas. Sebagian wajah juga ikut terkena. Tangan kirinya tidak bisa berfungsi lagi. Luka bakar itu menarik otot kulit lengan dan tangannya. Sulit digerakkan.

Hari-hari pertama sejak dirawat, penderitaan Trinity begitu hebat. Luka bakar itu begitu parah. Panas membakar kulit membuatnya trauma. Ia terus menangis menahan sakit.

Untunglah, ayah ibu Trinity orang tua yang sabar, penyayang dan kuat. Putri kecilnya ini terus didekap erat. Mereka tidak lelah memberi harapan pada anaknya meski air mata kedua orang tua Trinity deras mengalir. Terbayang anak gadis kecilnya akan berwajah jelek. Terbayang luka bakar itu membuat tubuhnya cacad dan tidak bisa normal lagi layaknya anak gadis yang tumbuh cantik.

Kini, Trinity perlahan pulih. Meski belum sempurna. Sore itu Trinity ingin bergaya. Ia ingin dipotret layaknya foto model. Trinity mengambil posisi duduk di sudut sofa coklat. Ia bersandar sambil tangan kanannya menahan wajahnya. Tangan kirinya disilangkan di dadanya. Lalu ia tersenyum kecil. Cekrekkk.. Cekrekkk.

Sang Ayah tersenyum melihat senyum kecil anaknya. Dalam senyum itu ada batin yang terluka. Luka sekujur anaknya menjadi luka batin yang menyiksa hidupnya sebagai ayah. Ia tahu Trinity menjadi gadis kecil yang hilang percaya dirinya. Ia dipandang aneh oleh kawan-kawannya. Diejek. Ditertawai bentuk fisiknya. Padahal Trinity tidak tahu apa salah dan dosanya.

Ayah Trinity terdiam beberapa saat. Ia mengamati wajah anaknya itu. Lamunannya kembali teringat peristiwa setahun yang lalu.

Senin pagi 14 November 2016 masih berkabut. Langit masih gelap. Suara azan subuh belum terdengar dari Mesjid dekat UGD RSUD AW Syahranie, Samarinda.

Lamat lamat terdengar suara isak tangis lirih dari ruang ICU memecah keheningan subuh. Dua orang dewasa dengan mata sembab menatap tubuh mungil berbalut perban berumur 2.5 tahun. Di tepi ranjang tampak kedua orang tua bocah mungil itu tidak henti berdoa.

Mulutnya berseru pelan memohon muzizat untuk kesembuhan anaknya. Matanya nampak sembab. Keduanya tidak bisa tidur. Mereka menatap pilu putrinya tidak sadarkan diri. Sebuah selang berisi oksigen terpasang dimasukkan ke mulut bocah itu.

Subuh beranjak merambat pagi. Pak Anggiat Marbun dan Ibu Intan terus menangis. Grafik detak jantung di layar monitor mesin EKG terlihat semakin melemah. Detak jantung Intan terus melemah. Perawat mendekat. Memberikan pertolongan medis. Suasana ruang ICU mendadak gaduh. Denyut nadi bocah malang itu berhenti.

Sontak kedua orang tua Intan menjerit histeris. “Boru hasiannnn…Intannnn boru hasiankuu..jangan tinggalkan mamak nakkkk”, jerit pilu Ibu Intan sambil memeluk tubuh mungil putrinya. Sang ayah memeluk istrinya. Tangisnya teredam dalam rongga dadanya. Dadanya bergetar. Anggiat Marbun terguncang. Tiba tiba bumi serasa runtuh.

Keduanya bahkan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya. Kepala mereka tertunduk ditepi ranjang sambil menangis panjang manggil nama anaknya. Ruang ICU itu menjadi pertemuan terakhir kedua orang tua Intan melihat anak yang dikasihinya.

Empat belas jam sebelumnya, Minggu pagi, 13 November 2016, sekitar pukul 10.00 Wib, suasana hening terasa di dalam Gereja Ouikumene Samarinda. Hanya terdengar suara

Pendeta sedang mengucapkan doa pengharapan dan pemberkatan. Ratusan jemaat tampak menutup mata mendengarkan doa penutup ibadah minggu. Kedua orang tua Intan tampak khidmat berdoa.

Sementara itu, di depan halaman gereja tampak bocah bocah kecil sedang bermain. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang dibawa orangtuanya ikut bergereja.

Hal biasa saat orang tua sedang beribadah, anak anak kecil ini bermain di halaman gereja. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang sebelumnya telah selesai beribadah sekolah minggu.

Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaean (3) bersama anak anak sekolah minggu lainnya senang sekali pagi itu.

Mereka senang karena di sekolah minggu mereka bisa bernyanyi dan bermain. Bertepuk tangan sambil menggoyangkan pinggang dan kepala. Bagi anak anak kecil itu sekolah minggu adalah tempat favorit mereka bergembira.

Mereka bisa bergembira karena disanalah mereka bisa bertemu dengan guru guru sekolah minggu yang mengajar betapa baiknya Tuhan. Guru guru sekolah minggu yang mengajar mereka bernyanyi dan berdoa.

Di luar pagar teras gereja, seorang pria kurus berkaos oblong hitam nampak berjalan kaki. Pria kurus itu berjalan tergesa gesa sambil menenteng tas ransel hitam di punggungnya. Ia tampak berhenti sebentar. Mengamati sekelilingnya. Clingak clinguk sekejap. Setelah pasti, Ia berjalan masuk ke halaman gereja.

Anak anak kecil itu tidak menaruh curiga. Dengan polos mereka tetap bermain. Tidak ada rasa takut. Anak anak kecil sekolah minggu itu hanya tahu bahwa gereja adalah Rumah Tuhan. Rumah berkat. Rumah di mana kebaikan dan kasih sayang diajarkan. Tidak mungkin ada bahaya di sana.

Pria berkaos oblong hitam itu berjalan semakin mendekat. Ia berhenti lalu menatap anak anak kecil itu. Entah apa yang dipikirkannya. Wajahnya mengeras dan dingin.

Ia sepertinya tidak melihat ada anak anak di halaman depan gereja itu. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak anak nan polos sedang bermain. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak anak itu sedang bernyanyi.

Pria berkaos oblong hitam itu hanya melihat musuh yang harus dihabisinya. Kebenciannya begitu membuncah. Kalian harus mati, begitu pikirannya.

Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaya (3) memandang pria berkaos oblong hitam itu.

Mereka malah tertawa riang lalu melanjutkan permainan mereka. Mereka tidak tahu sebentar lagi api akan melahap mereka. Mereka tidak tahu sedetik lagi pria berkaos oblong hitam itu akan melemparkan bom api molotov.

Setelah tiba waktunya, Pria berkaos oblong hitam itu lalu menarik nafas dalam. Ia melihat anak anak kecil itu sebagai target untuk dihabisi. Ia melihat kegembiraan anak anak kecil itu harus dihentikan. Keriangan anak anak kecil itu tidak boleh ada. Ia mendengus.

Lalu, Ia melepas tas punggungnya. Mengeluarkan sumbu lalu mengambil korek api. Ia membakar sumbu tas punggung itu.

Dengan sekuat tenaga pria berkaos oblong itu melempar tas berisi bensin menyala api. Brakkkk..bummm…Tas punggung berisi bensin dan berapi itu menghantam kerumunan anak anak kecil itu.

Api membumbung tinggi. Asap hitam mengepul. Pria berkaos oblong itu tersenyum lalu lari kencang menjauh dari halaman gereja itu.

Intan Olivia bocah berumur 2.5 tahun itu menjerit tangis. Api membakar sekujur wajah dan tubuhnya. Intan berguling guling menangis memanggil nama mamanya. “Ma…mamak..makkkk..panas makkk..sakittt makkkk…”, teriaknya perih. Sekujur badannya melepuh, mengalami luka bakar cukup serius.

Teman teman Intan lainnya Anita Kristobel Sihotang, Alvaro Aurelius Tristan Sinaga, dan Triniti Hutahayan juga menjerit menangis. Api menyambar tubuh mungil mereka. Membakar baju mereka. Keempat bocah malang itu berlari berguling guling mencoba memadamkan api yang melahap tubuh mungil mereka.

Suasana gereja yang damai teduh berubah menjadi neraka. Teriakan pilu perih anak anak sekolah minggu Intan Olivia Banjarnahor, Anita Kristobel Sihotang, Alvaro Aurelius, Tristan Sinaga, dan Triniti Hutahayan membuat seisi gereja panik.

Para orang tua berhamburan keluar. Mereka mencari tahu apa yang terjadi. Mereka menjerit histeris melihat anak anak mereka meraung raung terbakar. Berguling guling menahan panas membakar kulit dan dagingnya. Para orang tua itu berusaha memadamkan api. Sebagian berteriak histeris melihat anaknya dilalap api.

Trinity Hutahaean korban luka bakar itu akan mengenang kebiadaban teroris itu seumur hidupnya. Ia akan bertumbuh menjadi gadis yang bertubuh aneh. Bisa jadi Ia menjadi simbol betapa kebencian permusuhan atas agama itu mengerikan. Manusia bisa menjadi iblis.

Kita bertanggung jawab untuk tumbuh kembang Trinity. Semoga Tuhan mengasihi dan melindungi Trinity.

Jika ada yang ingin membantu Trinity, bisa langsung transfer ke nomor rekening BCA ibu dari Trinity : No rekening 0272694263 atas nama Sarina Gultom , BCA cabang Samarinda

TUHAN MEMBERKATI

LEAVE A REPLY

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini