Lawar Intaran, Simbol Pahit-Manis, Harus Dihabiskan Atau Kena Sanksi

0
273

ViralBali,Buleleng.

Siapa yang tidak tahu Lawar? Masakan favorit di Bali ini terbuat dari campuran sayur-sayuran dan daging cincang yang dibumbui secara merata. Penamaannya pun bervariasi, biasanya berdasarkan jenis daging yang digunakan atau jenis sayurannya. Bila yang digunakan daging babi maka lawar yang dihasilkan disebut lawar babi.

Demikian juga bila yang digunakan sayur nangka, maka lawarnya diberi nama lawar nangka. Ada juga pemberian namanya berdasarkan warna lawarnya yaitu lawar merah bila warna lawarnya merah, lawar putih bila warna lawarnya putih dan ada lawar yang bernama lawar padamare, yaitu sejenis lawar yang dibuat dari campuran beberapa jenis lawar.

Namun yang satu ini berbeda dari biasanya. Namanya lawar intaran. Sesuai namanya, lawar ini terbuat dari daun intaran, pohon liar yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Daun intaran atau yang sering disebut daun mimba berbentuk gerigi dan merupakan pohon kayu. Jadi termasuk pohon yang memiliki kambiun. Pohon intaran memang tumbuh liar dan digunakan sebagai pohon perindang. Rasa daun intaran memang pahit. Bahkan tidak jarang dijadikan sebagai bahan baku obat karena mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Lawar itu hanya ada di Desa Pakraman Suwug, Kecamatan Sawang, Buleleng, Bali dan dibuat setahun sekali atau setiap Piodalan Pura Desa Suwug pada Purnama Kaulu. Keberadaan lawar intaran ini berkaitan dengan tradisi Matata Linggih di Desa Pakraman Suwug.

Ada dua versi yang sempat beredar terkait sejarah dari Ngelawar Intaran. Bahkan ada yang menyebutkan jika sebelumnya lawar intaran dulunya bukanlah berasal dari daun intaran melainkan kebo (lawar kerbau) yang selalu disajikan setiap sangkep pada semua pura di Desa suwug. Namun pada saat ingin memotong kerbau yang diikaat dipohon intaran hilang dan untuk mengganti kerbau tersebut dipakailah daun intaran untuk lawar. Lawar intaran dipercaya sebagai paica (anugrah) dari Tuhan, hampir setiap sangkep masyarakat desa suwug selalu nunas (meminta) lawar tersebut.

Cuma, cerita itu dibantah oleh Kelian Desa Pakraman Suwug, I Wayan Nawa, ketika ditemui di Jeroan Pura Desa Suwug, Sabtu lalu (11/2). Menurutnya tradisi Ngelawar Intaran itu sudah ada sejak ratusan tahun silam. Dijelaskan, pelaksanaan upacara Ngelawar Intaran itu bermula saat empat puluh warga Suwug, yang kini disebut sebagai sekaa petang dasa.

“Sekaa petang dasa kala itu, melarikan diri dari Kerajaan Menasa yang berlokasi di Desa Sinabun, daerah perbatasan sebelah Utara Desa Suwug,” ujar Nawa  Sabtu, (11/2) lalu.

Pelarian itu disebabkan karena adanya selisih paham tokoh, sehingga sekaa petang dasa memutuskan untuk hijrah ke arah menuju bukit. Hingga akhirnya mereka mulai membabat hutan dan menatanya menjadi desa baru yang kini dikenal dengan Desa Suwug.

“Dalam perjalananya membangun desa ini, mereka mengalami sejumlah halangan dan rintangan. Namun semuanya dapat diatasi hingga sukses mendirikan sebuah desa baru,” ujar Nawa.

Setelah berhasil, mereka lalu mengikrarkan diri dan melakukan sumpah dengan membuat hidangan lawar intaran sebagai perlambangan pahit manis kehidupan mereka selama membangun Desa Suwug.

Sejak saat itulah ada tradisi lawar intaran yang dilakukan setiap piodalan Pura Desa Suwug yang jatuh pada Purnama Kaulu. Suguhan lawar intaran diberikan saat pergantian saye sekaa petang dasa yang menjadi rangkaian dari upacara Matata Linggih.

Terjadinya pergantian saye sekaa petang dasa itu dilakukan karena warga Suwug terus bertambah. Bahkan kini jumlahnya mencapai 1.190 KK. “Seribuan KK itu akan dibagi, masing-masing 40 KK dan bergilir untuk menjadi sekaa petang dasa pada setiap tahun. Pergantiannya dilakukan saat piodalan di Pura Desa (Purnama Kaulu, Red),” imbuh dia.

Lawar intaran ini nampak sama seperti lawar biasanya, hanya saja tidak menggunakan daging dan darah. Sedangkan bumbu dan proses pembuatan sama dengan lawar pada umumnya.

“Lawar intaran ini saat dikecapi menghadirkan rasa yang khas, pahit dari daun intaran bercampur manis dari air parutan kelapa melekat di lidah. Dalam satu hidangan, mereka yang menyantapnya dapat merasakan seluruh elemen rasa, baik manis, asam, asin, pahit, sepet,” ungkapnya.

Hidangan lawar intaran itu dibuat oleh sekaa petang dasa yang sedang saye (piket). Biasanya mereka akan menyantap hidangan tersebut sebelum penyerahan saye sekaa petang dasa yang bergantian setiap tahunnya.

Dalam hidangan itu, terdapat nasi yang ditakar menggunakan mangkuk berbentuk bulat diletakkan di tengah-tengah hidangan yang hanya beralaskan daun pisang dilengkapi dengan sambel serondeng, kacang-kacangan, ikan teri goreng, telur asin, garam, sambal pangi, dan juga lekesan dan kwangen (sarana upacara) yang diatur melingkari nasi.

Dikatakan Nawa bahwa nasi yang dihidangkan berbentuk bulat merupakan simbol kebulatan tekat sekaa petang dasa. Selanjutnya di pinggir nasi itu juga ditata lawar intaran yang merupakan menu utama.

Begitu hidangan lawar intaran selesai, saye sekaa petang dasa akan naik ke bale agung yang ada di jaba sisi pura. Prosesi itu dilakukan sebelum acara penyerahan saye sekaa petang dasa dilakukan. Sebelum menyantap lawar intaran mereka duduk berjejer melingkar di bale agung dan mengikuti seluruh rangkaian upacara. Hidangan lawar intaran baru bisa disantap setelah Jero Mangku Pura Desa selesai menghaturkannya di semua palinggih.

Saat duduk di bale agung, sekaa petang dasa juga diatur gerak dan hingga cara duduknya. Jika sudah naik ke Bale Agung tidak diperkenankan untuk turun hingga prosesi upacara selesai. Hal tersebut merupakan aturan dalam Matata Linggih (tata krama, Red). Hidangan yang sudah disediakan pun harus dihabiskan. Kalau tidak bisa, dikenakan sanksi. Karena dianggap melecehkan tradisi.

Setelah makan hidangan lawar selesai rangkaian upacara dilanjukan dengan pembacaan awig – awig desa. Jika ada tambahan dan pengurangan disebut akan dirapatkan kembali. Acara serah terima saye sekaa petang dasa, baru akan dilaksanakan pada tengah malam hingga dini hari. Krama saye lama saat itu mengakhiri tugasnya menjadi barisan utama di setiap upacara yang dilaksanakan di Kahyangan Desa, selama setahun.

Sumber :https://www.jawapos.com/baliexpress/read/2017/11/24/29187/lawar-intaran-simbol-pahit-manis-harus-dihabiskan-atau-kena-sanksi

LEAVE A REPLY

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini