Monumen Gong Perdamaian Di Bali

0
398

Denpasar, Bali

Di Pulau Bali juga ada Monumen Gong Perdamaian, monumen ini mempunyai tujuan agar bisa hidup berdampingan dan harmonis ( perdamaian Dunia ). Tokoh-tokoh yang menentang kekerasan di muka bumi diantaranya adalah Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Soekarno, dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya di dunia.

Guna untuk mengenang jasa-jasa para tokoh-tokoh tersebut, maka dibangunlah Monumen Gong Perdamaian yang tersebar di Dunia. Dengan dibangunnya Gong Perdamaian Dunia ini, diharapkan dapat menyadarkan umat manusia untuk selalu mengutamakan perdamaian dan kebersamaan tanpa membedakan ras, suku, bangsa, idiologi, ataupun sekat-sekat pemisah lainya.

Monumen Gong Perdamaian di Bali ini dibangun pada akhir tahun 2002 oleh Djuyoto Suntani ( presiden komite perdamaian dunia ), Gde Sumarjaya Linggih ( anggota DPR-RI ), dan tokoh-tokoh nasional lain seperti Esy Darmadi serta Lius Sungkharisma. Gong Perdamaian Dunia di Bali ini pertama kali dibunyikan oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden RI Hamzah Haz, pada pukul 00.00 WITA tanggal 31 Desember 2002.

Di permukaan Gong Perdamaian Dunia ini terdapat banyak sekali simbol yang mana ditiap simbol memiliki makna tersendiri. Tepat ditengah-tengah lingkaran gong tersebut terdapat sebuah peta permukaan bumi, lingkaran kedua terdapat lambang 10 agama besar di dunia. Sementara pada lingkaran ketiga terdapat tulisan “World Peace Gong” dan “Gong Perdamaian Dunia”.

Di antara dua tulisan tersebut dipisahkan oleh sebuah bunga yang merupakan lambang keindahan, kebahagian serta perdamaian. Pada bagian lingkaran paling luar ada gambar 202 bendera negara, Gong Perdamaian Duna di Bali ini adalah gong perdamaian terbesar di dunia dengan diameter 5 meter.

Monumen Gong Perdamaian di Bali terbuat dari lima unsur logam ( Emas, Perak, Perunggu, Besi, dan Timah ), kelima unsur logam atau “Panca Datu” tersebut melambangkan lima benua. Monumen Gong Perdamaian kini diletakan di Taman Shanti Buana yang mana berada di tengah-tengah Desa Budaya Kertalangu.

LEAVE A REPLY

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini