Menggerakkan Kelompok Silent Majority, Bukanlah Khayalan

0
398

Opini,

Kelompok radikal, kelompok intoleran, kelompok yang ingin merubah ideologi Pancasila menjadi khilafah, kelompok yang mudah mengkafirkan bukanlah kelompok yang berjumlah besar. Kelompok mereka hanyalah kelompok kecil tetapi yang membuat mereka terlihat besar adalah militansinya, konsistensinya dan teroganisir dengan baik dengan back up dana yang cukup besar, dan ada satu hal yang membuat kelompok kecil ini terlihatnya besar.
Apa itu? Mari kita simak bersama..

Kenapa saya bisa bilang kelompok mereka hanyalah kelompok kecil?
Dalam 1 minggu kemarin, saya melakukan kunjungan ke kota Jakarta dan Bandung, yang katanya 2 kota tersebut adalah kota-kota yang diindikasikan sebagai kantong-kantong kelompok radikal.

Saat saya ke Jakarta, saya berkunjung ke gedung PBNU (Kantor Pusat NU) di jalan Kramat Jakarta Timur. Di satu kesempatan, saya diantar keliling gedung, salah satunya di lantai 5. Di lantai 5 tersebut, merupakan tempat NU Cyber, ada ruangan khusus yang tertulis NU Mobile.

Di dalam ruangan tersebut merupakan ruangan khusus untuk memonitor segala kegiatan media sosial di seluruh dunia.

Dari penjelasan operator yang di sana, ada salah satu yang menarik diantara banyak hal-hal yang menarik di ruangan tersebut. Yaitu, grafik yang menunjukkan jumlah pemakai media sosial berdasarkan isi-isi konten di media sosial dari para penggunanya.

Terlihat 3 warna, hijau, kuning dan merah. Hijau menunjukkan pemakai medsos yang isi kontennya menyangkut perihal pluralisme, nasionalisme dan kemanusiaan. Warna Merah menunjukkan konten yang berisi perihal intoleran, SARA bahkan berita-berita hoax. Kuning adalah warna yang menunjukkan pemakai medsos yang terindikasi sebagai kelompok Silent Majority.

Yang membuat menarik adalah jumlah warna hijau hanya sedikit lebih banyak daripada warna merah, marginnya hanya 20-25%. Tetapi yang warna kuning, jumlahnya sangatlah banyak, margin diantara warna hijau dan merah bisa mencapai 75-80%. Yang artinya bahwa jumlah Silent Majority ini sangatlah dominan. Dan ini yang harus dijadikan sebagai PR besar bagi bangsa ini untuk membangkitkan rasa kepedulian terhadap NKRI.

Silent Majority adalah istilah kelompok masyarakat yang cenderung tidak tahu, tidak mau tahu, tidak peduli atau bahkan karena rasa takut atas kondisi dan keadaan bangsa saat ini, karena itu kelompok ini hanyalah diam saja tidak melakukan sesuatu untuk kepentingan bangsa ini.

Selanjutnya saya selama 3 hari di Bandung, juga menemukan beberapa fakta yang menarik perihal kelompok Silent Majority ini.

Di satu kesempatan, saya mengumpulkan beberapa relasi, kolega saya dan beberapa kawan-kawan dari mereka untuk ngopi-ngopi di salah satu tempat favorit di pusat kota Bandung.

Dari pertemuan yang berlangsung dari sore sampai tengah malam, dengan pembicaraan yang mendiskusikan soal keadaan bangsa ini, saya dapat menyimpulkan bahwa “Kenapa Bandung Disebut Sebagai Salah Satu Kantong Daerah Radikal?”
Jawabannya adalah, karena kelompok Silent Majority di Bandung benar-benar dominan.

Dari belasan orang yang kumpul bersama saya, hanya 2-3 orang yang mau peduli dan sudah melakukan sesuatu untuk menjaga kebhinekaan NKRI ini dengan kapasitas kemampuan mereka masing-masing. Tapi sebagian banyak, mereka benar-benar tidak tahu, bahkan tidak mau tahu atas perkembangan yang terjadi sebenarnya di Bangsa ini.

Beberapa dari mereka bilang ;
“Ahh masa sampai segitunya”
“Sebenernya sih aku tau, tapi capek ahh ngeliatnya, lieur pisan euyy”
“Pengin sih ngelakuin sesuatu, tapi bingung mulainya gimana”
Dan bla… bla… bla…

Saya memberikan sedikit gambaran dari apa yang bisa mereka lakukan secara sederhana tanpa harus mengorbankan keberadaan mereka. Salah satunya adalah saya menyampaikan,”Kalian tidak perlu harus turun ke jalan, tidak perlu ikut melawan secara langsung di medsos, cukup kalian lihat, awasi dan laporkan apabila ada postingan-postingan yang dianggap “membahayakan” bagi keutuhan NKRI atau menginformasikan apabila kalian melihat kegiatan-kegiatan yang “melenceng” dari konstitusi bangsa.”

“Gak usah bingung,gak usah ragu cukup informasikan ke saya, biar saya yang tindak lanjuti,cukup seperti itu dan sesederhana itu untuk berkontribusi terhadap NKRI sebagai Anak Bangsa.Yang penting kalian sadar bahwa NKRI Pancasila adalah tujuan mutlak kita untuk ikut menjaga negeri kita tercinta ini”, lanjut saya.

Dari diskusi yang panjang tersebut dan kunjungan di Gedung PBNU di hari sebelumnya, saya berani menyimpulkan bahwa, KELOMPOK RADIKAL INTOLERAN ATAU BIASA KITA SEBUT KAUM BUMI DATAR INI HANYALAH KELOMPOK KECIL YANG TERLIHAT BESAR KARENA ADANYA JUMLAH KELOMPOK SILENT MAJORITY YANG LEBIH DOMINAN DENGAN JUMLAH YANG LEBIH BANYAK DARIPADA KELOMPOK KEBHINEKAAN ITU SENDIRI ATAU JUGA KELOMPOK BUMI DATAR.

Seperti yang terjadi di Bandung, yang disebut sebagai salah satu kantong daerah radikal, karena Kelompok Silent Majority ini benar-benar cuek seakan-akan memang tidak terjadi apa-apa, sehingga kelompok bumi datar ini seakan-akan mendapatkan ruang gerak yang luas. Dengan leluasa mereka pun melakukan banyak kegiatan-kegiatan yang mengarah pada kegiatan-kegiatan anti kebhinekaan, propaganda khilafah, anti Pancasila melalui pengajian-pengajian kecil misalnya atau masuk melalui komunitas-komunutas kecil masyarakat.

Dan parahnya lagi, kegiatan tersebut sudah memasuki wilayah akademisi atau kampus. Yang dimana para intelek muda, mahasiswa pun mendapatkan doktrin-doktrin anti Pancasila. Bahkan menurut info salah satu mahasiswa dari Universitas yang cukup terkenal di Bandung, mengatakan di beberapa kampus masih terlihat bendera dari organisasi HTI, organisasi yang sudah resmi terlarang, yang terpampang jelas di sana.

Apa solusinya?
Solusinya adalah, kita sebagai kelompok “Hijau” harus sering-sering melakukan kegiatan-kegiatan yang bernilai Kebangsaan dengan sasaran audiensinya adalah Kelompok Masyarakat Silent Majority. Karena kalau hal ini terlalu lama didiamkan, kelompok Silent Majority ini bisa di “merah” kan oleh kelompok bumi datar. Karena kelompok bumi datar pun menyasar pada target kelompok Silent Majority juga.

Sederhananya adalah, kita sebagai kelompok “Hijau” jangan terlalu pusing dengan kelompok “Merah”, apalagi sampai terbawa ke pembentukan framing oleh mereka. Yang harus dilakukan oleh kelompok “Hijau” adalah lebih intens dan concern terhadap kelompok “Kuning” atau Silent Majority agar mau ikut peduli dan bergerak atas nama kebangsaan demi NKRI Pancasila. Dengan kelompok “Kuning” bisa kita “Hijau” kan, saya yakin kelompok “Merah” pun lambat laun akan bergeser menjadi kelompok Silent Majority dan perlahan akan masuk menjadi kelompok “Hijau”.

Dan ingat, Bandung hanyalah salah satu contoh kota yang terdapat kelompok Silent Majority yang mendominasi. Masih banyak kota-kota di Indonesia yang hampir sama kondisinya dengan di Bandung.

Maka Indonesia yang NKRI Pancasila pun bisa terwujud penuh seperti cita-cita para pejuang pendiri bangsa terdahulu.

Masih ingatkah dengan kejadian Ahok yang dianggap menista agama sampai membawa dirinya dipenjara sampai saat ini?
Dari kejadian tersebutlah, beberapa kelompok masyarakat Silent Majority bergerak, keluar dari zona nyamannya dan melakukan tindakan nyata untuk negeri ini sampai sekarang. Apakah kita menunggu momen seperti momen Ahok dulu untuk bisa menggerakkan kelompok Silent Majority lagi?
Tentu jawabnya adalah “TIDAK!!”

“LET’S DO ANYTHING FOR NKRI BEFORE TO LATE”

Semoga opini saya tersebut bisa dijadikan rujukan untuk dijadikan sebagai tindakan nyata demi NKRI Pancasila.

*Narasumber : Mocka Jadmika

LEAVE A REPLY

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini